Berikut adalah jawaban anak-anak murid qu, siswa kejar Paket C PKBM Remaja Masa Depan, Pelajaran Sosiologi. Yuliantari Menurut saya pribadi, sosok seorang ibu yang ideal adalah ibu yang di luar rumah. Tetapi, meskipun di luar rumah seorang ibu juga harus kreatif bekerja di dalam rumah Misalnya, memasak, mencuci piring dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Seorang Ibu juga tidak hanya mengandalkan suaminya saja, tapi ia juga mampu mengemban tugasnya di luar maupun di dalam rumah. Peranan seorang ibu yang bekerja di luar rumah akan lebih menambah wawasan & pengetahuan, buat bekal di hari tua nanti. Jadi, wanita juga bisa mencari nafkah, tapi jangan lupa tugasnya di rumah. Karena ada seorang suami yang ia harus layani juga anak-anaknya. walapun, anak-anaknya sudah dewasa. Tapi, perhatian dan kasih sayang jangan sampai pudar. Apalagi, kepada seorang suami. Karena suami adalah kepala rumah tangga. Seroang ibu rumah tangga mampu menjadi ayah sekaligus ibu di dalam keluarga. Ryan Menurut saya seorang yang bisa dikatakan ideal adalah ibu yang selalu menaati peraturan rumah tangga, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap keluarga.Arti seorang ibu bukan cuma itu saja dalam bekeluarga. Ibu juga bisa menjadi teman curhat. Sebab, dengan menjadi teman, Ibu mengerti masalah yang dihadapi dalam lingkungan keluarganya. Aprilia S Menurut saya sosok ibu yang ideal adalah ibu yang bekerja di rumah. Sebab, selain bisa mengawasi anak-anaknya, Ia juga bisa mengurusi urusan rumahnya dan mengurus keluarga. Selain itu, ia juga bisa di bilang ibu rumah tangga yang baik atau bertanggung jawab karena sudah mengurus anak-anaknya dengan baik dan menjaga keharmonisan keluarga.Bukan cuma itu saja, tapi anak-anak juga akan menjadi semakin senang, karena ia diperhatikan kepada orang tuanya.Tapi itu menurut pendapat saya, mungkin tidak untuk orang lain.Selain sosok ibu yang ideal, seorang ibu juga bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya, seperti menyiapkan makanan untuk anak dan ayahnya dan menyiapkan kebutuhan lainnya dan ada interaksi didalam bekeluarga, dan seorang ibu tidak perlu bekerja untuk memenuhi keluarga karena segala kebutuhan sudah dipenuhi oleh sosok ayah. Nur Hikmah Ibu yang bekerja di rumah. Karena ibu yang bekerja di rumah bisa membantu pekerjaan si anak, misalnya, mengerjakan PR. Kalau ada kesusahan kita bisa membantunya. Terus, kita juga bisa memberitahu tentang pekerjaan rumah misalnya kaya cuci piring, menyapu, mencuci pakaian. Jadi, suatu saat kalau si anak sudah besar tanpa di suruh dia sudah mengerti pekerjaan seperti apa yang harus dia pegang pada saat libur sekolah. selain dia sudah tahu pekerjaan rumahnya, dia juga harus bisa membagi waktu, misalnya waktu untuk belajar, waktu untuk mandi, juga waktu buat makan. Kalau dia jadi anak yang bisa membagi waktu dia pasti bisa disiplin, penurut,sopan. Laily Nurhasanah Menurut saya tipe ibu yang bekerja di rumah. Karena yang seharusnya bekerja itu adalah seorang ayah. Karena ayah adalah kepala keluarga. Tugas ayah adalah menafkahi anggota keluarga yang lain dan tugas ibu adalah merawat anak, mengatur keuangan dan mencontohkan hal-hal yang baik pada anak-anaknya. Siti Nurjamilah Saya lebih berpihak kepada sosok seorang ibu yang bijaksana yang tinggal di rumah yang mempunyai tanggung jawab penuh kepada keluarga dan mengurusi serta kasih sayang kepada seorang anak. Selain itu juga serorang ibu tidak mesti harus di rumah terus, tetapi harus bisa membagi waktu diluar juga untuk memperluas wawasan. Chandra Banyak orang yang bilang wanita tidak usah sekolah tinggi-tinggi, entar juga larinya dirumah-rumah juga momong anak sama keluarga. Saya timbul pertanyaan"kalau suaminya meninggal, "bagaimana kalau tidak ada pengalaman dan pendidikan tinggi?" Jadi, suatu saat saya berkeluarga Ibu yang ideal adalah ibu yang bekerja di luar rumah. Karena dengan bekerja di luar dia dapat pengalaman-pengalaman baru dan lebih banyak wawasannya oleh teman-teman sepekerjaannya. Tetapi, harus tepat pada waktunya agar seimbang antara keluarga dan pekerjaanya diluar. Ucok Sunandar menurut saya sosok ibu yang ideal itu terutama rajin ibadah, bisa memasak masakan yang enak-enak, dia merawat anak-anaknya dengan baik dan nantinya bisa membahagiakan ayah dan ibunya. Juga sosok ibu berbaik hati yang sayang kepada keluarganya. Jadi menurut saya sosok ibu yang dirumah yang ideal. Affan Menurut saya, seorang ibu bisa dikatakan ideal adalah ibu yang bekerja didalam rumah. Sebab, ibu tahu hal-hal yang dibutuhkan keluarga. Entah dengan cara memberi nasihat dan kasih sayang ibu dapat mendidik atau mengajar sopan santun, bertanggung jawab, maupun cara bermasyarakat. Arti seorang ibu bukan itu saja, dalam keluarga ibu juga bisa menjadi teman curhat. Sebab, dengan menjadi teman Ibu mengerti masalah yang dihadapi keluarga. Dengan tahu semuanya seorang ibu dapat memberikan ide atau solusi yang baik agar dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi keluarganya. Ardiansyah Pratama Kalau kata saya, andai saya sudah berkeluarga, menurut saya seorang Ibu yang ideal adalah seperti Ibu yang suka memikirkan masa depan anaknya, suka shalat 5 waktu dan tidak pernah meninggalkannya, dan apabila disuatu hari nanti tidak punya duit/ ke pasar ibu itu tidak cepat emosi sama suami, sabar, dan tentram dalam keluarga. Kalau ibu rumah tangga ibu yang selalu di rumah dan tidak bekerja dimana-mana dan selalu mengasih makan anaknya sendiri/suaminya. Sedangkan ibu yang bekerja diluar adalah ibu yang selalu bekerja dirumah orang lain/diperkantoran yang pulangnya dari pagi hari sampai dengan sore hari dan selalu mendapat gaji dari orang lain. Ida Farida Menurut saya, jika saya berkeluarga nanti disamping saya bisa bekerja di rumah saya juga bisa bekerja di luar, tapi bukan berarti bekerja di luar melupakan suami, anak, dan diri saya sendiri. Contohnya Ibu Maryamah di samping bekerja sebagai seorang istri, ibu dan dia juga masih bekerja sebagai guru ia juga bekerja sebagai ketua panti asuhan dan dia juga bisa mengurus anak-anak asuhnya. Bukan itu sebagai ibu dan juga istri bisa membagi waktu dan bisa menempatkan diri misalnya sebagai istri bisa mengurus suami sebagai ibu pun sama anak-anak adalah mutiara paling indah dalam kehidupan rumah tangga bisa menjaga mendidik dan juga bisa melihat perkembangan si buat hati dan kita juga bisa memberikan kebebasan apa saja dilakukan sang anak itu dalam hal positif. Kalau bekerja di luar rumah selagi berkerja dalam segi positif bagi saya itu seorang ibu ideal itu wajar karena itu berarti kita masih dibutuhkan orang banyak. Menurut saya, itu yang bisa dinamakan ideal. Jadi, selagi kita membagi waktu antara anak, suami dan orang banyak tak ada salahnya kalau saya nanti bisa menjadi seorang istri, ibu dan bisa membagi waktu tak ada salahnya jika bekerja di rumah maupun di luar rumah. Salama Menurut saya sosok ibu yang paling ideal adalah ibu yang bekerja dirumah daripada ibu yang bekerja diluar rumah meskipun wanita karier Ibu yang bekerja di rumah harus bisa mendidik, mengajar, dan menyayangi karena ibu yang bekerja dirumah ibu sangat mulia daripada ibu yang di luar rumah. Sang Ibu harus bisa melayani suami, anak, dan keperluan rumah. Ibu yang di luar rumah, ibu yang kurang pengertian. Ibu yang mementingkan diri sendiri, dia tidak mementingakan suami, anak, dan keperluan rumah. ![]() ![]() ![]() ![]()
Masa Depan Hubungan Indonesia-Australia: Antara Corby dan Mauboy Oleh: Wisyal Dinata Pengantar Dalam tulisan ini saya akan mencoba menganalisa masa depan hubungan Indonesia dan Australia yang sudah lama terjalin. Kenapa Australia? Seperti yang lazim kita ketahui Australia adalah negara “barat” yang ada di timur yang paling dekat dengan Indonesia. Negara kangguru ini banyak membantu diplomasi Indonesia di dunia Internasioal, selain negara-negara Islam dan negara-negara Arab. Hal yang ingat ketika duduk di bangku sekolah dasar Australia mewakili Indonesia dalam Komisi Tiga Negara (KTN) yang diusahakan oleh PBB pada tahun 1947. Selanjutnya Australia menjadi mitra stratergis Indonesia, diantaranya perundingan-perundingan menuju pengakuan kedaulatan pada tahun 1949, dan masuknya Indonesia pada keanggotaan PBB pada tahun 1950. Dari segi ekonomi dan geografis hubungan RI ( Republik Indonesia) dan Aussie (Australia) menjadi hal yang strategis dan sama-sama menguntungkan. RI sudah menjadi mitra dagang Aussie melalui pedagang-pedagang dan nelayan RI yang membawa hasil bumi dan tangkapan melalui Australia Utara. Dalam geografis jarak RI dan Aussie bisa dikatakan dekat. Pulau paling selatan RI, yakni Pulau Rote (NTT) dekat dengan Australia Utara dan adanya celah timor. Selain itu, antara dataran Autralia dan dan Bumi Papua pada zaman es disatukan yang sekarang kita kenal dengan nama paparann sahul. Hal ini dibuktikan dengan kesamaan satwa dan beberapa kebudayaan dan kepercayaan penduduk lokal di masing-masing wilayah. Sedangkan, pulau paling utara Aussie, yakni Chrismast Island, letaknya tidak jauh di selatan Pulau Jawa yang sering dijadikan tempat singgah para pencari suaka. Hal-hal tersebut menjadi penting dan menjadi satu dari beragam alasan kenapa RI harus mempunyai hubungan yang erat dengan negara asal Kylie Minogue ini, selain dari alasan keamanan, sosial, dan politik. Panas – Dingin Jakarta – Sydney Setiap hubungan pasti akan ada konflik didalamnya. Suami-istri, persahabatan, persaudaraan, dan ikatan-ikatan yang mengandung unsur emosional didalamnya juga akan mengalami konflik. Begitu juga dengan hubungan diplomatik RI dan Aussie, terdapat konflik yang cukup serius dan membahayakan hubungan baik yang sudah lama terjalin antara RI dan Aussie. Berdasarkan ingatan saya, konflik RI dan Aussie dimulai saat pemerintahan Australia dibawah pimpinan Perdana Menteri Jhon Howard. Mungkin tesis saya ini meleset, tetapi berdasarkan berita dan informasi yang saya dapatkan dari berbagai media, tidak pernah ada demostrasi besar-besaran anti Australia yang sampai-sampai membakar bendera negara masing-masing, dan saling mengencingi kedutaan masing-masing negara pada masa sebelum JH (John Howard). Mantan Perdana Menteri Australia sebelum JH, yakni Paul Keating pernah mengkritik sikap JH yang terkadang keras, terkadang lembut pada RI. Tetapi bukan JH jika tidak bisa membalikan keadaan. Ia pun mengkritik balik PK (Paul Keating) dengan mengatakan bahwa pemerintahan Aussie di bawah pimpinan PK terlalu bersikap lembut kepada RI. Jadi, apakah John Howard menjadi “biang masalah” panas dinginnya hubungan RI-Aussie. Tampaknya sikap saya ini terlalu ekstrem untuk seorang akademisi dan terlalu pribadi. Berdasarkan pengamatan saya, setidaknya ada 3 (tiga) masalah mendasar yang memicu “panas-dingin”nya hubungan antara Jakarta-Sydney, yakni: · Masalah Timor Leste. Sebagai warga negara yang baik, saya harus menyatakan bahwa sampai saat ini saya masih menyayangkan lepasnya Timor Timur (Timor Leste) dari Indonesia. Begitu banyak anggaran dan darah perjuangan putra-putra terbaik bangsa hanya untuk “mengintergrasikan” bumi loro sae ke Indonesia. Australia sebagai negara yang paling dekat dengan Timor Leste mungkin juga mempunyai pertimbangan sendiri mengenai masa depan yang lebih baik bagi rakyat loro sae. Pada tahun 1975, ketika ABRI masuk ke Timor Leste, dunia internasional mengecam RI, karena menggangap RI sudah melalukan invasi ke Timor Leste yang jelas-jelas saat itu telah menyatakan diri sebagai negara merdeka dan berdaulat. Entah benar atau tidak, (karena sejarah di Indonesia sarat kepentingan) di Bumi Loro Sae terjadi konflik yang serius mengenai perdebatan masa depan wilayah itu. Perang saudara pun tidak terelakan antara kubu yang pro kemerdekaan dan pro integrasi. Indonesia melalui ABRI masuk ke Timor dengan maksud menengahi konflik di dua kubu. Bagaimana dengan sikap Aussie sendiri tentang Timor Leste? Berdasarkan catatan sejarah Aussie baru mengakui kedaulatan RI atas Timor Timur pada tahun 1975. Itu pun setelah di dalam negeri Aussie sendiri terjadi perdebatan terkait dengan peristiwa terbunuhnya 5 (lima) wartawan Aussie di Timor pada tahun 1975. Sikap Aussie yang mendukung kedaulatan RI terhahap Timor Timor pada tahun 1975, berbalik 180 derajat pada tahun 1999. Ya, Aussie masih mendukung RI atas Timor Timur, tetapi mendukung diadakan jajak pendapat rakyat Timor Timur, apa masih mau bergabung dengan NKRI atau memisahkan diri, dengan kata lain “merdeka”. Perubahan sikap ini disebabkan alasan, banyaknya warga Timor Timur yang melarikan diri dan meminta suaka ke Aussie baik itu warga sipil, politisi, uskup, dan biarawati. Ketika sudah mendapatkan suaka di Aussie, mereka tidak lantas diam dan hidup mewah di Sydney, tetapi mereka masih “memikirkan” nasib saudara-saudara yang ada di Bumi Cendana itu. Akhirnya para pencari suaka itu pun “bernyanyi” pada forum-forum di Aussie. Karena dukungan politik dan masyarakat Aussie meluas pada pemerintah untuk menyelamatkan saudara-saudara mereka di Timor Leste, maka pemerintah Aussie pun “mendukung penuh” jajak pendapat yang difasilitasi PBB di Bumi Loro Sae, dan ini terjadi di era pemerintahan Jhon Howard. · Pengiriman Tentara Australia ke Irak. Hal yang membuat popularitas John Howard menyaingi kepopuleran Kylie Minogue di dunia ini adalah, dukungannya terhadap invasi militer AS ke Irak. Siapa sangka negara benua yang letaknya beribu-ribu mil dari AS ini, menjadi “istri” kedua AS dalam menginvasi Irak setelah Inggris. Nama John Howard sering dibicarakan oleh aktivis anti perang Irak. Bahkan, pernah ada anekdot “jika dunia ini ingin damai, aman, tentram, dan sentosa maka Bush, Blair, Howard, Bin Laden, dan Saddam kita kumpulan di satu ruangan, lalu ruangan itu kita (maaf) kita ledakan”. Sikap JH yang mendukung invasi AS ke Irak bukannya tanpa pertentangan di dalam negeri sendiri. Dia pun mendapatkan banyak kecaman dan kritikan dari aktivis-aktivis di Aussie dan lawan-lawan politiknya. Akhirnya itu berakibat pada kekalahannya dipemilihan umum tahun 2007, karena sikap politik dan ekonominya yang tidak populer di masyarakat Aussie. · Isu Terorisme di Indonesia. Faktor lain yang menyebabkan panas-dinginnya hubungan Jakarta-Sydney, yakni isu terorisme yang diarakan kepada kaum ekstrimis Islam. Memang kita akui selama ini jika ada kasus-kasus pemboman di RI selalu dikaitkan dengan keberadaan JI (Jamaah Islamiyyah) yang katanya mempunyai hubungan dengan jaringan terorisme internasional Al Qaeda pimpinan Usamah Bin Laden. Sejak kasus Bom Bali I yang banyak menewaskan warga Australia, entah kenapa pemerintah dan sebagian masyakarat Aussie menunjuk hidung bahwa setiap Muslim adalah pelaku teror dan bersalah atas terbunuhnya saudara mereka. Saya ingat betul bagaimana banyak novel-novel dan cerpen-cerpen pada majalah-majalah remaja Islam yang menceritakan bagaimana diskriminasinya pemerintah dan sebagian warga Aussie terhadap Muslim, termasuk Muslim Indonesia pada kurun waktu 2004-2005, dan itu terjadi di era John Howard. Hal ini perparah dengan kasus Bom Bali II dan pengeboman Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Maka sikap anti Islam pun banyak menyebar di masyarakat Aussie. Masa Depan Hubungan Jakarta –Sydney: Antara Schapelle Leigh Corby dan Jesicca Mauboy Pada tulisan di bagian ini saya akan coba menganalisis masa depan hubungan Jakarta-Sydney melalui pendekatan dua wanita Autralia yakni, Corby dan Mauboy. Lazim kita ketahui bahwa Corby merupakan bintang yang bersinar di Indonesia dan Australia bukan karena prestasinya membintangi sebuah film box office atau menelurkan album musik, melainkan karena kasusnya yakni terbukti membawa 4,2 kg mariyuana tahun 2005. Sontak saja gadis belia mendapat simpati dari warga Australia yang tidak percaya akan kasus ini. Apalagi didukung oleh sikap anti hukuman mati kaum humanis. Sikap warga Aussie yang tadinya banyak anti Islam berubah haluan menjadi anti Indonesia. Spanduk-spanduk bertuliskan “boikot Bali” banyak dipenjuru kota-kota di Australia. Hubungan kedua negara sempat memanas. Tampaknya akan ada cerita-cerita anti Australia pada novel dan cerpen remaja Islam jilid II. Tetapi, saai ini Australia secara perlahan mulai memperbaiki hubungan dengan Indonesia, salah satunya dengan diplomasi Mauboy. Kenapa diplomasi Mauboy? Saya mengambil istilah tersebut dari nama keluarga runner-up Australian Idol 2005 yakni Jesicca Mauboy. Siapakah Jesicca Mauboy? Gadis Australia ini menjadi bintang di negaranya bukan karena kepemilikan 4,2 Kg seperti Corby. Melainkan karena presetasinya menjadi runner-up Australian Idol 2005 serta mengeluarkan album serta hit single. Ironis sama-sama terkenal di tahun 2005 tetapi berbeda sebab. Jesicca ditunjuk menjadi duta budaya Australia. Tentunya target utama dari penunjukan Jesicca sebagai duta budaya ini adalah ingin memperbaiki hubungan baik antara Jakarta-Sydney mengingat Jesicca masih keturunan Indonesia. Jadi, untuk mengambil hati masyarakat Indonesia, pemerintah Australia dibawah kepemimpinan Kevin Ruud menunjuk Jesicca. Selain itu, saya melihat saat ini dibawah kepemimpinan Kevin Ruud hubungan Indonesia dan Australia mulai membaik. Hal dapat dilihat dengan makin banyak dialog-dialog antara pemerintah Australia dengan lembaga-lembaga keagamaan di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah terkait pendidikan dan wajah Islam yang rahmatan lil a’lamin. Selain itu, kesempatan beasiswa semakin terbuka lebar untuk para pelajar Indonesia. Sebuah titik harapan baru dari Mr. Ruud. Saya teringat bagaimana salah seorang dosen saya yakni, RR bersedia jauh-jauh ke Australia untuk memastikan kemenangan Ruud dari Howard, dia pun pulang dengan wajah bahagia dan bangga karena jagoannya dari Partai Buruh menang. Saya pun meledeknya dengan ledekan “Pak seneng Kevin Ruud menang, apa karena ketemu reporter Indonesia? (inisialnya MH)”.
Wanita Iran: Untuk Bangsa dan Dunia. Oleh Wisyal Dinata Pada tulisan saya ini, saya mencoba mengangkat tema mengenai wanita Iran, yang notabene sebagian besar adalah Muslimah. Ketertarikan saya pada tema ini, karena saya melihat wanita Iran berbeda dengan wanita-wanita di kawasan Timur-Tengah lainnya. Wanita-wanita Iran banyak menginspirasi muslimah di negara manapun dalam berkarier, berikhtiar, bahkan dalam berbusana. Hal ini terbukti dari revolusi jilbab muslimah Indonesia, yang banyak terinspirasi dari muslimah Iran saat revolusi Islam. Oleh karena itu, saya mengambil judul “untuk bangsa dan dunia” . Dalam tulisan ini saya membagi menjadi 2 (dua) sub bab yang masing-masing sub babnya saya mengambil tokoh-tokoh wanita Iran. Wanita Iran telah banyak yang membuktikan mereka bisa melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki tanpa melupakan kodrat mereka sebagai wanita. Wanita Iran merupakan kaum yang merasakan pengaruh khusus dari tatanan negara Iran baru yang berlandaskan ajaran Islam. Salah satu bentuk gagasan Khomeini yang revolusioner ialah gagasan yang berbunyi: "Walaupun pria dan wanita mempunyai hak yang sama, tetapi terdapat perbedaan jasmani dan rohani antara wanita dan pria."Perbedaan itulah yang menyebabkan wanita dan pria untuk saling menutupi kekurangan satu sama lain. Salah satu contohnya adalah lingkungan keluarga yang biasanya pria menghabiskan waktu lebih sedikit ketimbang wanita. Maka dari itu revolusi Islam Iran dengan nilai-nilai Islam mencoba untuk meningkatkan peran wanita dalam keluarga.[1] 1. Wanita yang Berjuang untuk Bangsa Sebagaimana kita lazim pada pemberitaan media barat yang senantiasa mendiskreditkan Islam dengan pemberitaan bahwa Islam tidak “ramah” kepada wanita. Terkadang dalam menyampaikan infromasi tidak berdasarkan fakta dan bukti konkrit sejarah baik konseptual maupun kontekstual. Padahal, dalam Islam banyak pejuang wanita yang senantiasa mendampingi Rasulullah dalam berjuang menegakan Islam, diantaranya istri beliau, yakni Khadijah RA dan putri beliau Fatimah Binti Muhammad, yang cikal bakal melahirkan Imam Hasan dan Husein. Begitu juga yang terjadi pada Iran. Hanya karena mempunyai nama resmi Republik Islam Iran (pasca Revolusi 1979, yang menjatuhkan rezim tiran dan korup Syah Reza Pahlevi) tidak lepas dari pemberitaan miring mengenai kondisi wanita Iran yang terbelakang dari pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Mereka (media barat) menyamakan kondisi Iran dengan kondisi Afganistan saat dipimpin oleh rezim Thaliban, padahal Presiden Ahmadijed tidak terlalu “mendukung” rezim Thaliban saat memimpin Afganistan. Banyak para wanita-wanita Iran yang berjuang bukan atas nama dirinya, klannya, sukunya, maupun sektenya, tetapi mereka berjuang atas nama Bangsa Mereka, yakni Iran. Perempuan Iran adalah salah satu kekuatan yang sangat berpengaruh dalam meruntuhkan rezim Shah yang feodal. Tanpa dukungan mereka, nyaris mustahil revolusi akan berhasil. Mereka berpartisipasi dalam berbagai posisi di pemerintahan maupun swasta, termasuk dalam ketentaraan sebagai staf medis (dokter atau perawat) dan kepolisian. Sifat lain perempuan Iran adalah teguh dan keras dalam mengarungi kehidupan.
Shirin Ebadi, wanita muslim pertama yang meraih nobel berasal dari Iran. Wanita yang lahir pada tahun 1947 merupakan Ahli hukum, hakim, pengajar, penulis, dan aktivis pembela hak asasi manusia Iran. Baik dalam tulisan maupun kegiatannya sebagai aktivis HAM, Ebadi dikenal sebagai pribadi yang mengedepankan solusi yang demokratis dan damai atas berbagai masalah serius dalam masyarakat. Sebagai seorang muslimah, Ebadi melihat tidak ada pertentangan fundamental antara Islam dengan hak asasi manusia. Ebadi mewakili kalangan Islam reformis dan melontarkan pemikiran-pemikran baru dalam hukum Islam yang selaras dengan hak asasi manusia seperti demokrasi, persamaan hak dan kewajiban di hadapan hukum, kebebasan beragama, dan kebebasan mengeluarkan pendapat. Ia memperjuangkan hak asasi manusia yang paling mendasar dan percaya bahwa tidak ada masyarakat yang layak dijuluki ‘masyarakat yang beradab’ kecuali hak-hak perempuan dan anak-anak dihormati. Menurutnya, kekuasaan politik tertinggi dalam suatu masyarakat harus dibangun dengan dasar pemilihan yang demokratis. Ketika Ebadi berkunjung ke Indonesia pada salah satu media lokal, Ia pernah berucap bahwa sebagai muslimah ia mendukung penuh revolusi Islam di Iran. Adapun posisinya yang di copot sebagai presiden pengadilan kota di Teheran tahun 1975, menurut saya dikarenakan untuk kepentingan Ebadi sendiri. Di dalam Islam dikhawatirkan apabila wanita menjadi seorang hakim akan memberikan keputusan yang emosional, terkait perbedaan fisik jasmani antara wanita dan pria. Tetapi, walaupun begitu Ebadi tetap berjuang untuk bangsanya yakni, Iran dengan mengedepankan dialog. Dia tidak kebanyakan tokoh-tokoh Iran yang pasca Revolusi karena terjadi friksi dengan kubu konsevatif melarikan diri ke luar negeri dan mengacak-gacak Iran dari luar negeri dengan bantuan lembaga donor asing. Tetapi, ia berjuang untuk “menyempurkan dan mengoreksi” nilai-nilai revolusi Islam di Iran dengan membela hak-hak wanita, anak-anak, dan golongan-golongan yang termarjinalkan atas nama Islam. Padahal, Islam sendiri sangat menghormati wanita dan anak-anak. Terlepas dari kontroversi di negaranya, Tetapi Ebadi tetap bangga menjadi seorang wanita Iran dan berjuang demi bangsa Iran. Apalagi, baru-baru ini Shirin Ebadi masuk kedalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia, dan tokoh-tokoh Islam (termasuk Yusuf Al Qardhawi, Fetullah Gulen, dan Muhammad Yunus) masuk dalam 20 besar yang didalamnya terdapat nama Shirin Ebadi. · Nassim Hassanpour (Inspirator bagi Wanita Iran) Ketika saya membaca sebuah artikel di sebuah surat kabar nasional, yang sering memberitakan tentang profil altet-altet Muslim, saya tersentak ketika salah satu edisinya adalah Nassim Hassanpour. Dengan gagahnya, wanita ini dengan menggunakan gamis dan jilbab membidik sasaran yang ada didepannya dengan pandangan setajam elang. Sebagai anak yang terlahir di Indonesia saya sudah jamak melihat para atlet muslimah bertanding, dengan menggunakan kostum olahraga yang notabene membuka aurat. Hanya dibeberapa cabang saja ada muslimah berjilbab seperti pencak silat dan menembak. Mungkin bagi saya hal ini sudah biasa, apalagi di negara tetangga, yakni Malaysia para atlet muslimah mengenakan busana muslimah. Adalah Nassim Hassanpour, wanita yang saya bicarakan. Wanita yang lahir di Tabriz, Teheran, Iran tahun 1985, adalah satu-satunya atlet wanita asal Iran. Di lapangan Ia menengenakan baju muslimah. Tadinya, Ia lebih senang untuk terjun di cabang senam, tetapi karena pakaian senam tidak sesuai dengan syari’ah, maka Ia pun memutuskan untuk terjun di cabang menembak (setahu saya juga atlet menembak muslimah asal Indonesia yang mengenakan jilbab). Mungkin bagi kita hal ini biasa saja tidak ada yang istimewa. Tetapi, untuk Nassim dan wanita Iran lainnya, hal ini sebuah prestasi yang amat membanggakan. Tampil di ajang olahraga dunia, apalagi menjadi satu-satunya atlet wanita asal Iran. Satu hal yang dilakukan oleh Nassim, yakni berjuang untuk bangsanya, yakni Iran. Ia pun mempunyai target untuk meraih medali pada olimpiade Beijing tahun ini. Dan ini dilakukan bukan untuk hanya untuk kepentingan pribadinya, tetapi juga untuk bangsa Iran. 2. Wanita Yang Menginspirasi Dunia. Jika pada pembahasan di atas saya membahas tentang Shirin Ebadi dan Nassim Hassanpour. Pada bagian ini saya akan membahas dua wanita Iran yang menginspirasi banyak orang di dunia. Membuat orang banyak mengeluarkan air mata saat kita mengetahui kisah hidupnya, dan meratapi kematiannya, mereka adalah Ladan dan Laleh Binjani. Saya memilih mereka, karena menurut saya jiwa wanita Iran yang kuat tergambar dengan jelas di wanita kembar ini. Selama puluhan tahun mereka hidup saling dempet di bagian kepala. Hidup penuh kompromi antara yang satu dengan yang lain. Tetapi, mereka bisa hidup optimis dan bisa mencapai impian mereka masing-masing. Bagaimana mereka dengan kondisi yang “kurang” itu terdapat optimisme hidup. Bahkan, ketika operasi pemisahan dilakukan pada tahun 2003, sebelum operasi mereka menebar senyum pada wartawan internasional pada sebuah konferesi press. Dengan menggunkan kerudung yang dikaitkan dengan sebuah peniti, mereka menyapa ramah, dan mengunggapkan tujuan mereka masing-masing saat mereka hidup terpisah nantinya. Tetapi, apa mau dikata. Allah berkata lain. Mereka memang akhirnya terpisah, tetapi mereka terpisah dalam meninggal dunia. Dunia pun tersentak. Sebuah operasi yang melibatkan puluhan dokter spesialis top dunia itu pun gagal. Mereka hidup terpisah, tetapi saat ajal menjemput mereka. Mereka dilahirkan bersama dan ditakdir untuk meninggal bersama. Apa yang dilakukan oleh Binjani bersaudara ini, banyak menginspirasi dunia, terutama untuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Dari mereka, kita belajar bagaimana dengan kondisi apapun kita harus optimis dalam menghadapi hidup. Karena, Allah pastinya punya rencana untuk setiap makhluknya. Dan rencana yang disiapkan Allah untuk kembar bersaudara ini adalah mereka menjadi inspirasi bagi dunia hingga akhir hayat mereka. Semoga arwah mereka di sisi Allah SWT dan segala dosa diampuni. Iran patut berbangga akan mereka.
” Sabarnya ya nak! Tuhan itu baik dan tahu apa yang terbaik buat umat-Nya” Oma Debbie menghibur sambil memegang bahu ku! Aku segera menyadarkan Simon dari do’anya untuk memberi tahu kehadiran Oma Debbie dan Tante Prita. Setelah bersalaman dan cupika-cupiki dan sedikit basa-basi Simon pun melanjutkan do’anya. Oma dan Tante Prita pun hanya tersenyum melihat pria yang memasuki sweet seventeen itu. ” Opa mana Oma?” tanya Syarif. Raut wajah Oma Debbie dan Tante Prita pun tersipu-sipu bercampur sedih. Syarif pun heran dibuatnya. ” Itu di belakang tiang!” Oma Debbie menjawab sambil menunjuk ke arah tiang. Syarif sontak melihat ke belakang tiang yang jaraknya hanya 5 meter dari ruang UGD tempat Ummi di rawat. Syarif melihat bayangan seorang laki-laki tua berumur sekitar 70-an memakai kemeja putih dengan bawahan krem bergaris-garis meliriknya yang sedang berbicara dengan Oma Debbi dan Tante Prita. Itulah Opa Robert, badannya masih tegap, sisa-sisa militer masih tampak jelas di tegap badannya, matanya tajam seperti mata almarhum papa, ubannya dan kerut wajahnya menandakan bagaimana kerasnya hidup dan pendiriannya selama ini. ” Oma, Tante aku ke Opa dulunya!” Syarif meminta izin ke Oma Debbie dan Tante Prita. Keduanya mengangguk setelah Oma Debbie memberi isyarat kepada Tante Prita yang khawatir muncul dari dalam bola matanya. Setelah mandapat izin dari Oma Debbie dan Tante Prita, Syarif pun mengoncangkan tubuh Simon yang bersimpuh dari tadi berdo’a untuk kesembuhan papa. ”Simon itu ada Opa, yukk kita sapa dulu!” Syarif mengajak Simon. Raut wajah Simon pun berubah kaget bukan kepalang, ada rasa khawatir bukan main dalam dirinya. Ia pun memandang wajah Oma Debbie dan Tante Prita, keduanya hanya membalas dengan senyuman dan isyarat bahwa tidak ada terjadi apa-apa mengingat kondisi yang terjadi. Simon pun lantas memandang wajah Syarif menandakan kekhawatiran yang sama, tak lama ia pun mengangguk bertanda setuju. Sebelumnya beranjak Simon pun menyudahi do’a nya ” atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus Amin!” serunya dan di dalam ruang UGD Ummi masih ditangani oleh para dokter dan perawat yang cekatan merawat mama mereka. Syarif dan Simon pun berjalan menuju balik tiang untuk menemui pria yang dari tadi tenang berada dibaliknya. Perlahan demi perlahan langkah mereka pun terhenti tepat di hadapan pria itu. Pria itu pun tampaknya sudah siap untuk dihampiri oleh cucunya. ” Opa apa kabar?” sapa Syarif sambil mencium tangan kanan Opa Robert. ”Baik!!!!” jawab Opa Robert singkat sambil mengelus rambut berombak Syarif, mengingatkan ia akan alhamarhum papa. Simon pun mencoba seperti apa yang dilakukan oleh syarif, tapi sayang.... ”Dasar kamu yaa, anak pembawa sial!!! Sana pergi jauh-jauh dari sini!terkutuk kamu!!!” Opa Robert berang, sambil mengibaskan tangannya ke tangan Simon yang dari tadi memberi isyarat ingin menciun takzim tangan Opa Robert. ”Opa sudah! Simon hanya ingin salim tangan Opa!kenapa Opa malah memarahinya?dia juga cucu Opa!Syarif mencoba membela Simon, sementara Simon hanya bersembunyi di balik badan Syarif, ketakutan dan kesedihan saat ini ada di diri Simon. ”Cucu, apanya yang cucu! Dia itu cuma anak sial, pasti gara-gara dia juga menantu sakit, heh kamu tidak cukup kamu sudah membawa penderitaan buat keluarga kami, pertama anakku, sekarang menantuku, besok mungkin saja kamu membawa sial buat cucuku, orang yang selama ini sudah menganggap kamu adiknya sendiri, puas kamu sekarang, puas!puas!puas!” opa Syarif membentak sambil mencoba menampar wajah tampan Simon ”Opa sudah!!” Syarif menghalangi tangan Opa sambil berteriak dan tangisnya pun pecah, melengkapi kesedihan, ketakutan, dan kegelisahan Simon. Oma Debbie dan tante Prita yang sedari tadi memperhatikan beranjak dan menghampiri ketiga pria yang sedang tegang urat syarat beberapa meter disepan mereka. ”Papa, apa-apaan ini! Ya Tuhan, papa!sekarang bukan saatnya bertengkar, didalam ruangan sana Mbak Novi entang sedang apa!dia sedang sekarat Pa!kenapa Papa malah......”belum selesai Tante Prita berbicara ”Diam Prita kenapa kamu jadi ikut-ikut membela anak pembawa sial ini!” opa Robert membalas ”Simon bukan anak pembawa sial, Opa tidak boleh berbicara seperti itu!!!” Syarif berteriak sambil menangis. Oma debbie mencoba menengakan Syarif ”Opa kalau Opa mau ribut jangan disini, bisa tidak sih opa saat ini tenang sedikit?” Oma Debbie berusaha bijak. ”Ehem, maaf!! Saya menggangu!!!” tegas perawat berbadan besar dan berkacamata menegur keluarga kami ”Iya...., ada apa ya?” jawab Tante Prita ”Maaf! Ini rumah sakit, ruang UGD lagi, saya kalian semua bagaimana harus bersikap di rumah sakit, kalau mau ribut-ribut urusan keluarga, silahkan keluar, atau dilanjutkan di rumah, saya harap kalian semua mengerti, permisi dan maaf sebelumnya, terima kasih” perawat itu berusaha bijaksana Simon dari tadi masih terdiam, ketakutan di belakang pundak Syarif, Opa Robert sudah mulai tenang dan duduk di kursi panjang, tempat tunggu kerabat pasien, yang jaraknya hanya 10 meter dari ruang UGD tempat mama sedang ditangani. ”Iya, kami minta maaf telah buat keributan, maaf ya sus, kembali kasih” Tante Prita menjadi juru bicara keluarga ”Puas sekarang papa, sudah buat Syarif menangis dan menambah beban mental dia, buat Simon ketakutan, dan buat kita semua di tegur perawat galak di rumah sakit ini, puas papa hah!” wajah Tante Prita geram ke Opa Robert. ”Sudah Prita, biarkan papa kamu, diam dan kita tinggalkan saja di sini sendiri” ajak Oma Debbie sambil menyetir bahu Tante Prita dan mengajaknya duduk ke kursi di seberang Opa Robert yang dari tadi Syarif dan Simon sedang berdekapan, tanda sambil menguatkan, suara tangis Syarif dan Simon pun sayup-sayup terdengar, lantas Oma Debbie dan Tante Prita pun duduk diantara Syarif dan Simon, tanda mereka sedang memberikan dukungan kepada Syarif dan Simon. Tak lama datang seorang wanita mengunakan baju muslim berwarna biru tanpa motif, yang dilengkapi dengan bawahan berwarna putih, dan hijab warna putih yang dengan setia menutup sempurna auratnya, wanita tampak tergesa-gesa menghampiri keluarga Syarif, dan dari pintu masuk dia langsung berlari kecil menuju Oma Debbie dan Tante Prita, ya itulah Tante Hana, dia anak kedua Opa Robert dan Oma Debbie, dan dia seorang Muslim setelah menikah dengan Om Cakra, seorang pilot di TNI AU, lima tahun yang lalu. ”Mama, Prita, gimana keadaan Mbak Novi?” tanya tante Hana sambil menyapa Oma Debbie dan Tante Prita dengan berpelukan dan cupika-cupiki. ”Novi masih ditangani secara intensif di dalam” jawab Oma Debbie sambil menujuk ruang UGD tempat mamanya Syarif dan Simon dirawat ”kamu apa kabar Hana?mana Cakra dan anak mu Daffa?” Tanya Oma Debbie mengalihkan perhatian ”Alhamdulillah Ma, baik!, Daffa saya titipkan ke tetangga, soalnya dia masih kecil masih 6 tahun, jadi kemungkinan dia belum bisa masuk ke sini, lagian repot Ma kalau ajak Daffa, nanti dia minta inilah, itulah, duh repot apalagi keadaan lagi darurat begini” jawab Tante Hana, sambil duduk di sebelah Oma Debbie ”Heh Prita kamu diam aja dari tadi?, Mana cemberut lagi!suram tahu dilihatnya” tante Hana mencoba menyapa Tante Prita ”Iya!! Ini semua gara-gara papa?” jawab Tante Prita ”Papa?kenapa dengan papa? Terus kenapa Syarif, Simon kok ada Tante di sini kamu diam saja?kalian kenapa nak?”tanya Tante Hana heran ”Iya, tante maaf” jawab Syarif sambil beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri tante Hana yang sedari tadi duduk di sebelah Oma Debbie. Simon sama tidak bergerak dia masih trauma atas tindakan Opa Robert yang mau menamparnya tadi dan tuduhan yang menusuk hingga relung hatinya, sesekali dia pu meneteskan cairan bening dari kedua bola matanya. ”Opa tante........opa tadi mau menghajar Simon!” jawab Syarif lirih ”Astagfirullah..... God!” seru tante Hana terkejut ”tapi kenapa? apa salah Simon?”tanya Tante Prita ”Masa Simon dituduh pembawa sial, trus yang menyebabkan semua kejadian ini!ya bener aja, setiap minggu ke Gereja tapi masih percaya takhayul! Dasar papa!!”jawab Tante Prita kesal ”Huuus!! Kamu gak boleh bilang begitu!!”bentak Oma Debbie ke Tante Prita, Tante Hana pun terkejut mendengar pernyataan Tante Prita tadi. ”Iya Prita, gitu-gitu dia kan papa kita, kalau kamu bilang begitu lagi, trus Papa dengar, ntar kamu gak dapat warisan lho!” jawab Tante Hana sedikit bercanda, mencoba mencairkan suasana. Tante Hana memang dikenal suka bercanda dan memiliki selera humor yang tinggi, oleh sebab itu Opa Robert lebih senang kepada Tante Hana daripada Tante Prita, yang padahal sifat tante Prita tidak dari jiplakan Opa sendiri. Opa sendiri yang menikahkan Tante Hana dengan Suaminya Om Cakra, dan dia pun rela putri kesanyangannya menjadi pengikut Muhammad SAW karena menikah dengan seorang Om Cakra yang muslim. ”Kamu ini sama saja ya ternyata!!, disaat-saat seperti ini masih aja bercanda!!” Oma Debbie kesal sambil mencubit Tante Hana, tetapi wajah Tante Prita sedikit tersenyum mendengar pernyataan tante Hana tadi, Syarif pun sedikit melebarkan pipinya dan lesung pipit itu tampak lagi di hadapan tante Hana yang mengingatkan dia kan kakandanya, yakni almarhum Papanya Syarif, maklum usia mereka berbeda 13 tahun, cukup jauh dan cukup menjadikan papa kedua buat adik-adiknya Tante Hana dan Tante Prita. Karena Tante Hana inilah papa bertemu mama, dan akhirnya mereka menikah, tetapi saat itu Tante Hana masih seorang Nasrani yang taat. Dia pun sering berandai-andai, kalau saja kakaknya itu masih hidup pasti saat ini dia lebih bahagia karena dia mempunyai saudara seorang muslim, yang pasti bisa untuk bertukar pikiran, tetapi apa mau dikata.....kakaknya sudah meninggal sebelum ia menjadi muslimah.
this is my favorite song!
Aroma ketegangan masih meliputi wajah Syarif saat harus mengantar ibunya yang harus kembali ke rumah sakit setelah hampir 3 bulan keluar dari rumah sakit yang sama akibat komplikasi ginjal yang diderita ibunya. Sejak remaja ibu harus bolak-balik ke rumah sakit untuk cuci darah, barulah setelah usia 20 tahun ibu menerima donor ginjal dari saudarinya yang mengalami kecelakaan motor saat ia dan teman-teman satu ganknya adu balap liar di jalanan. Di sebelahnya ada pria tegap berusia 17 tahun yang cukup mengerti akan kondisi yang sedang dilihatnya. Simon nama pria lucu dan lugu itu, dari tadi sejak dari rumah dia tidak henti-hentinya menangis memanggil”ma,mama,ma” hingga tidak terasa berapa liter lelehan air mata yang dia keluarkan. Sesekali mamanya meliriknya dengan senyuman seakan ingin memberi tanda pada bocah itu bahwa ia tidak apa-apa. “simon jangan nangis lagi-nya, mama gak apa-apa kok!” ucapnya sambil tersenyum menahan derita sakit, seakan-akan izrail melemahkan cengkraman nyawanya saat ia berbicara dengan bocah itu. “udah mama jangan banyak bergerak dan bicara” balas Syarif yang tangannya masih setia menempel di kereta dorong. Tahu bahwa sebentar lagi ia akan menjadi yatim piatu setelah papa meninggal saat usia 7 tahun dan kini di usia 24 di harus rela melepas kepergiaan mamanya yang hanya tinggal menunggu waktu. ” maaf mas hanya sampai di sini!” perawat yang belia menggunakan jilbab putih itu memberi tanda. Syarif dan Simon mengangguk, spontan berhenti dan melepaskan pegangan tangannya dari kereta dorong, tetapi Simon tetap memanggil-manggil nama Mama Novi, serentak Syarif pun mendekap adik kecilnya itu untuk beberapa saat memberikan ketenangan psikologis pada bocah tersebut. ” Kak, mama baik-baik aja kan, iya kan Kak?...iya kan Kak...?” Simon mendesak Syarif ”Iya, Insya Allah Simon, Mama baik-baik aja, Simon gak usah nangis! Mending sekarang kita berdo’a supaya ummi baik-baik saja!” Syarif berusaha menghibur. Sekejap saja Simon langsung terdiam dan menangguk tanda paham akan intruksi Syarif. Kami duduk di kursi kayu di lorong UGD, aku pun mulai berdo’a dalam hati sambil berdzikir supaya Allah memberikan keputusan terbaik-Nya pada mama dan keluarga kami. Doa-doa dan shalawat terhadap Rasul tak pula Syarif lantunkan, kini ia larut dalam do’a dan dzikirnya berada dalam dimensi dan ruang yang berbeda yang menghiraukan kesibukan petugas bagian adminstrasi yang dari tadi sibuk bolak-balik berkas-berkas pasien, dan kesibukan orang-orang disekitarnya. Lalu Simon bagaimana dengan dia? Dia berlutut sambil mengayunkan tanggannya dari dahi, dada, dan kedua bahunya ” atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus!” ujarnya. ” wahai Bapa di Surga jangan Kau jemput mama ku ke surga-MU! Hilangkan lah rasa sakitnya, jamahlah dia dengan kasihMU yang tulus dan mulia!” berulang-ulang ia mengucapkan do’anya. Syarif pun tersenyum ketir melihatnya. Orang-orang yang ada disekitar mereka pun melihat kami dengan tatapan aneh dan heran yang satu berbaju koko putih dengan bawahan hitam sambil memegang Al qur’an dan Al Matsurat yang satu lagi duduk bersimpuh sambil mengenggam kedua tangannya di dada dengan liontin salib ditangganya yang menempel pada rosario hadiah Natal Oma Debbie. Yap itulah potret keluarga Syarif ditengah-tengah keluarga Muslim yang taat ada seorang bocah yang dibesarkan dengan iman Nasrani. Entah kenapa mama memutuskan mengadopsinya dan membesarkannya sebagai seorang Nasrani bukan sebagai Muslim. Dari nama pun mereka jauh berbeda satu bernama Aziz Syarif Qolbi Muhammad dan yang satu Rafael Simon Johannes. Tak lama dari kejauhan Syarif melihat bayangan wanita bersanggul berusia sekitar 60-an menggunakan baju dan rok bermotif garis-garis hitam putih, dan disebelahnya ada wanita cantik berusia 30-an yang hingga kini masih melajang memakai blazer layaknya esmud menghampiri mereka, yap mereka itulah Oma Debbie dan Tante Prita. Syarif pun takzim mencium tangan ke dua wanita itu, Oma Debbie dan tante pun membalas dengan ciuman dan pelukan. ” Gimana keadaan menantu? Apa dia baik-baik saja? Kenapa bisa kambuh lagi? Apa Mama kamu kecapekan? Apa obatnya habis, trus belum beli obat lagi? Bilang donk ke Oma klo gak punya uang, nanti Oma beri!” Oma Debbie langsung memberi kotbah singkatnya. Tante Prita langsung memberi tanda menyuruh Oma Debbie diam. ” Benar itu rif?, gimana kejadiaanya?” tanya Tante Prita. Usianya dan Tante Prita tidak terlampau jauh. ” Mama tiba-tiba aja lemas sehabis belanja. Lantas, Ibu RT menyuruh beberapa tetangga menggotong mama pulang ke rumah. Bu RT pun langsung menelpon Hp ku dan Hp Simon yang nomornya sudah di save di Hpnya sejak mama sakit takut ada apa-apa klo gak ada siapa-siapa di rumah. Ya udah mama langsung di bawa ke sini setelah Ibu RT menelpon ambulance. Obat mama masih banyak di rumah, bahkan antibiotik yang sisa berobat kemarin belum habis.....” Syarif menjelaskan. ” Ya Tuhan!!!” seru Oma Debbie dan Tante Prita ” Sabarnya ya nak! Tuhan itu baik dan tahu apa yang terbaik buat umat-Nya” Oma Debbie menghibur sambil memegang bahu ku! Aku segera menyadarkan Simon dari do’anya untuk memberi tahu kehadiran Oma Debbie dan Tante Prita. Setelah bersalaman dan cupika-cupiki dan sedikit basa-basi Simon pun melanjutkan do’anya. Oma dan Tante Prita pun hanya tersenyum melihat pria yang memasuki sweet seventeen itu. ” Opa mana Oma?” tanya Syarif. Raut wajah Oma Debbie dan Tante Prita pun tersipu-sipu bercampur sedih. Syarif pun heran dibuatnya. ” Itu di belakang tiang!” Oma Debbie menjawab sambil menunjuk ke arah tiang. Syarif sontak melihat ke belakang tiang yang jaraknya hanya 5 meter dari ruang UGD tempat Ummi di rawat. Syarif melihat bayangan seorang laki-laki tua berumur sekitar 70-an memakai kemeja putih dengan bawahan krem bergaris-garis meliriknya yang sedang berbicara dengan Oma Debbi dan Tante Prita. Itulah Opa Robert, badannya masih tegap, sisa-sisa militer masih tampak jelas di tegap badannya, matanya tajam seperti mata almarhum papa, ubannya dan kerut wajahnya menandakan bagaimana kerasnya hidup dan pendiriannya selama ini. ” Oma, Tante aku ke Opa dulunya!” Syarif meminta izin ke Oma Debbie dan Tante Prita. Keduanya mengangguk setelah Oma Debbie memberi isyarat kepada Tante Prita yang khawatir muncul dari dalam bola matanya. Setelah mandapat izin dari Oma Debbie dan Tante Prita, Syarif pun mengoncangkan tubuh Simon yang bersimpuh dari tadi berdo’a untuk kesembuhan papa. ”Simon itu ada Opa, yukk kita sapa dulu!” Syarif mengajak Simon. Raut wajah Simon pun berubah kaget bukan kepalang, ada rasa khawatir bukan main dalam dirinya. Ia pun memandang wajah Oma Debbie dan Tante Prita, keduanya hanya membalas dengan senyuman dan isyarat bahwa tidak ada terjadi apa-apa mengingat kondisi yang terjadi. Simon pun lantas memandang wajah Syarif menandakan kekhawatiran yang sama, tak lama ia pun mengangguk bertanda setuju. Sebelumnya beranjak Simon pun menyudahi do’a nya ” atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus Amin!” serunya dan di dalam ruang UGD Ummi masih ditangani oleh para dokter dan perawat yang cekatan merawat mama mereka. Syarif dan Simon pun berjalan menuju balik tiang untuk menemui pria yang dari tadi tenang berada dibaliknya. Perlahan demi perlahan langkah mereka pun terhenti tepat di hadapan pria itu. Pria itu pun tampaknya sudah siap untuk dihampiri oleh cucunya. ” Opa apa kabar?” sapa Syarif sambil mencium tangan kanan Opa Robert. ”Baik!!!!” jawab Opa Robert singkat sambil mengelus rambut berombak Syarif, mengingatkan ia akan alhamarhum papa. Simon pun mencoba seperti apa yang dilakukan oleh syarif, tapi sayang.... ”Dasar kamu yaa, anak pembawa sial!!! Sana pergi jauh-jauh dari sini!terkutuk kamu!!!” Opa Robert berang, sambil mengibaskan tangannya ke tangan Simon yang dari tadi memberi isyarat ingin menciun takzim tangan Opa Robert.
Ruang Di Sebelah Kanan Lobby FIS: Dari Gudang, Stand Bazzar, sampai Koperasi Prodi Ilmu Komunikasi. Ruang disebelah kanan Lobby FIS. Itulah saya menyebutnya. Mungkin istilah itu kurang tepat, tergantung orang yang menilai apa yang pantas menyebut ruangan tersebut. Saya menyebut demikian karena apabila kita masuk pintu utama lobby FIS UNJ, tepat di sebelah kanan terdapat ruangan yang lebarnya kira-kira 5 X 5 meter. Ruangan itu berada di samping anjungan akademik yang terdiri dari dua buah unit komputer didalam sebuah etalase yang bertuliskan “anjungan akademik FIS UNJ”. tempat yang ramai dikunjungi mahasiswa baik FIS maupun di luar FIS saat diakhir dan diawal semester untuk melihat nilai di kartu hasil studinya (KHS), untuk memastikan mata kuliah yang diambil sesuai saat mengisi kartu rencana studi (KRS), atau sekedar pamer indeks prestasi kumulatif (IPK) pada orang-orang disekitarnya. Tepat di atas ruangan tersebut terdapat prasasti sebagai saksi bisu sejarah berdirinya gedung tua FIS UNJ. Di prasasti tersebut masih terpampang jelas nama dan tanda tangan Menteri Dalam Negeri RI Amir Machmud pada tahun 1976, yang saat itu gedung ini adalah gedung Fakultas Psikologi UI. Entah bagaimana civitas akademika FIS mengganggap prasasti itu. Apa sebagai saksi sejarah?sebagai hiasan?atau sekedar kebanggaan karena gedung ini pernah mencetak psikolog-psikolog handal di tahun ‘70an dan ‘80an. Tepat di atas prasasti itu terdapat jam dinding yang digunakan sebagai penunjuk waktu untuk mahasiswa yang sedang bercengkrama di Lobby FIS, menginggatkan mereka akan waktu kuliah yang harus mereka ikuti dan sekarang penujuk waktu tidak ada lagi sejak direnovasi. Di sebelah kanan ruangan itu terdapat alat presensi elektronik untuk dosen dan karyawan baik FIS maupun UNJ (karena saya pernah melihat karyawan pusat komputer (puskom) presensi di tempat itu). Ketika saya diterima melalui SPMB di UNJ pada tahun 2005, ruangan ini belum berfungsi seperti sekarang ini. Pada waktu itu tampak ruangan ini seperti bekas sebuah loket. Entah loket untuk prensensi karyawan atau loket seperti di BAAK yang berfungsi sebagai sarana mahasiswa yang berhubungan dengan administrasi. Yang jelas tampak seperti sebuah loket yang atasnya sebuah kaca lebar dan dibagian bawah terdapat lubang untuk kegiatan transaksi (tukar-menukar), seperti loket di stasiun atau di gedung bioskop. Bagian dalamnya, berantakan bukan main. Ada meja yang ditumpuk-tumpuk seperti tumpukan mobil bekas di tempat pembuangan mobil bekas di Amerika Serikat, ada lemari yang sudah usang dipepet ke tembok sebelah kanan jika kita melihatnya dari kaca lobby sebelar luar, yang didalamnya masih terdapat map yang berisi file untuk presensi karyawan, juga tiang pembatas yang saat ini digunakan untuk membatasi lobby ketika sedang dibersihkan oleh petugas kebersihan. Dalam benak saya terpikir kenapa fakultas menyiakan-yiakan ruangan yang sebenarnya bisa diberdayakan selain menjadi gudang yang dihuni oleh nyamuk dan jin pada malam hari. Apalagi ruangan itu tepat berada di lobby. Lobby adalah pintu masuk dari sebuah bangunan. Lobby sering diartikan oleh suatu yang mewah atau megah, seperti lobby hotel, lobby gedung perkantoran, atau lobby utama pusat perbelanjaan. Pantaskah saat itu Lobby FIS dikatakan lobby apabila isinya hanya lapangan luas tempat organisasi mahasiswa melakukan kegiatan diskusi dan seminar. Pada sore harinya,hari sabtu-ahad dan hari libur dijadikan garasi (tempat parkir) mobil dinas FIS. Lebih parahnya lagi tempat yang tadinya loket tempat kegiatan administrasi diubah menjadi gudang tempat menyimpan barang-barang yang sudah rusak dan usang. Apakah itu sebuah lobby?. Saya menyimpulkan itu bukan sebuah lobby, lebih tepat di sebut alun-alun. Tampaknya ruangan itu seperti habis manis, sepah di buang. Ruangan itu tampak seperti telah hilang masa kejayaannya. Saya berpendapat demikian, karena jika kita melihat ruangan tersebut, ruangan ini menjadi satu kesatuan dengan ruang K 101 dan ruang serba guna. Kenapa demikian?karena saya menilai ruangan tersebut tadinya ruang pengarsipan dan administrasi, terlihat dari loket yang telah saya paparkan di atas tadi. Tampak bagian depan (ruangan yang saya maksud) seperti pintu masuk data, bagian belakang (ruang K 101) ruang pengolahan data dan ruang serba guna menurut saya, tadinya adalah ruangan adminstrasi yang menyimpan data-data dan tempat kerja para karyawan FIS. Singkatnya tadinya ruangan tersebut adalah sebuah TU (Tata Usaha). Hal ini dikuatkan dengan bukti fisik prasasti penanda gedung Fakultas Psikologi UI yang tertera tanda tangan Amir Machmud di atas loket. Hal ini sebagai penanda bahwa disinilah pintu masuk utama untuk karyawan dan mahasiswa yang akan bergabung dengan keluarga besar civitas akademika Fakultas Psikologi UI. Tanda inilah yang menjadi kebanggaan dan bukti kejayaan gedung FIS yang penuh sejarah ini. Bisa bilang adalah brand image pada era-nya. Sehingga, ruangan yang ada di bawahnya dijadikan pusat administrasi dan pelataran yang lebar dan luas di depannya disebut dengan istilah “lobby”. Jadi, ruangan ini tadinya mempunyai keterlekatan dengan Lobby FIS. Saya sendiri tidak tahu persis kapan ruangan kehilangan kejayaannya dari sebuah pusat administrasi menjadi sebuah gudang. Karena saya sendiri kekurangan infomasi. Yang jelas, saat saya kuliah di FIS UNJ, ruangan ini telah menjadi gudang. Entah ada hubungannya atau tidak dengan pisahnya ekonomi dari FIS dengan membentuk Fakultas Ekonomi padata tahun 2005. Karena mungkin saja, dengan pisahnya ekonomi dari FIS banyak ruangan yang berubah fungsi. Ini bisa dilihat dari terpampangnya papan besar berukuran 2 X 0,5 M yang berada di persimpangan antara ruangan K 102 di depannya, ke sebelah kanan apabila lurus kita menuju ruang K 101 dan ruang serba guna, apabila belok kanan kita menuju tangga ke lantai atas. Bila belok kiri kita ke ruang K 103, K 104, K 105, kamar mandi, pantry, dan tangga darurat. Tepat di tembok K 105 itu ada papan besar yang berisi keterangan tiap-tiap lantai di FIS berserta nama-nama ruangannya. Ada ruang kuliah, ruang sidang, ruang cendekia, serta ruang reproduksi. Saya sendiri tidak apa yang dimaksud dengan reproduksi. Dengan pisahnya ekonomi dari FIS, bisa dikatakan banyak ruangan kosong terutama di lantai II ditinggalkan oleh ekonomi sehingga ruangan tersebut digunakan oleh FIS untuk kepentingan operasional fakultas seperti untuk ruangan perlengkapan dan tata usaha. Mungkin karena faktor itulah (pisahnya jurusan ekonomi) banyak ruangan yang berubah fungsinya. Termasuk ruangan yang saya jadikan sumber tulisan ini. Mulai dari ruangan administrasi berubah menjadi ruangan yang terbengkalai sebagai tempat menyimpan barang. Keadaan ruangan ini mulai berubah ketika acara Pekan FIS tahun 2007. Pekan FIS merupakan acara menyambut dies natalis UNJ dan FIS. Kebetulan saat itu saya sudah menjadi pengurus BEM FIS UNJ, yang kedapatan untuk membuat aneka lomba dan kegiatan untuk mengisi Pekan FIS. Saya terlibat tidak langsung pada acara Pekan FIS melalui BEM FIS UNJ. Sesuai dengan ketetapan dan keputusan bersama rapat panitia Pekan FIS 2007 diputuskan untuk tidak boleh menggelar bazaar yang menjual makanan dan minuman di Lobby FIS. Pertimbangannya mungkin takut lobby kotor dan juga sampah basah yang dihasilkan oleh makanan dan minuman tadi. Maka, Program Studi Ilmu Komunikasi, Jurusan ISP FIS UNJ memutuskan untuk menjual barang-barang souvenir yang baik yang berhubungan dengan FIS UNJ (seperti tobi merah bertuliskan nama FIS dan jurusan-jurusan yang ada di FIS) maupun aksesoris wanita dan pria (tas tangan, ikat pinggang, dll). Lahan yang digunakan oleh Prodi Ilmu Komukasi adalah ruangan yang berada di sebelah kanan pintu masuk Lobby FIS sebagai area stand mereka, sekaligus memperkenalkan lebih dalam tentang Program Studi Ilmu Komukasi FIS UNJ. Jadilah ruangan yang tadinya sebuah gudang menjadi sebuah stand bazzar. Ruangan itu pun direnovasi. Bagian depan yang menyerupai loket di stasiun dan di gedung bioskop itu pun dibongkar. Meja-meja yang tidak dipakai dikeluarkan ada yang dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan ada yang diletakan begitu saja di sebuah area dekat toilet wanita di sebelah kiri jika dari arah pintu masuk lobby, dekat tempat wudhu musholla pria, yang bersebelahan dengan ruang K 108, yang justru menambah rasa tidak nyaman apabila ruang K 108 digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar karena harus melihat pemadangan betis pria yang hendak mengambil wudhu dan tumpukan kursi serta meja bekas, ditambah tiang gawang untuk kompetisi futsal antar Opmawa ( Organisasi Pemerintahan Mahasiswa) FIS UNJ. Ruangan ini memang tidak suram lagi. Di dalam ruangan ini sudah terdapat etalase dan barang-barang untuk diperjualbelikan. Hal ini terus bertahan sampai seminggu pasca pelaksanaan Pekan FIS. Ruangan ini telah menjadi sebuah kios yang dikelola oleh Prodi Ilmu Komunikasi. Lama ruangan ini tidak digunakan setelah dijadikan stand bazaar oleh Prodi Ilmu Komunikasi. Akhirnya renovasi yang signifikan pun dilakukan. Kalau pada saat menjelang Pekan FIS hanya merobohkan bagian depan yang tampak seperti loket, pada renovasi yang kedua kalinya ruangan ini sudah di cat dan beri tambahan meja, seperti meja resepsionis. Meja tersebut berada di sisi kiri ruangan, etalase yang menaruh souvenir masih dipertahankan dan di pojok kanan dibangun sebuah ruangan seperti kamar bicara umum (KBU) di warung telepon (wartel). Anehnya sampai sekarang fungsi ruang yang mirip KBU ini belum pasti kegunaannya. Apakah untuk benar-benar menjadi KBU, tetapi tidak ada perlengkapan telekomunikasinya. Untuk menjadi pos petugas keamanan, tetapi dari awal dibangun saya tidak pernah melihat ada petugas keamanan yang mojok di situ. Sebuah hal yang menurut saya masih sia-sia padahal membuatnya perlu modal materi dan tenaga. Warna ruangan ini pun di cat ulang. Yang tadinya berwarna kuning suram seperti warna ruangan lain di FIS (mungkin tadinya putih, tetapi karena lapuk dimakan usia warnanya pudar menjadi agak kekuning-kuningan) di cat menjadi warna hijau terang nan cerah, sesuai dengan motto FIS “mencerdaskan dan mencerahkan”. Tetapi apa mau dikata, meja resepsionis tidak berfungsi karena tidak ada mbak-mbak resepsionisnya dan petugas keamanan juga ogah untuk menempati pos yang kecil seperi KBU wartel itu. Lantas apa fungsi ruangan ini pasca di renovasi?. Jawabannya adalah ruangan ini menjadi tempat kumpul-kumpul anak-anak PR (sebutan keren untuk teman-teman ilmu komunikasi) dan sebagian teman-teman Pendidikan Kewarganegaraan (yang masih satu jurusan dengan ilmu komunikasi, yakni ISP). Alasan saya memberikan pendapat itu karena saya sendiri pernah terlibat langsung. Kebetulan teman dekat saya ada mahasiswa ilmu komunikasi angkatan 2004, yang saat itu sedang sibuk mempersiapkan tugas akhir (TA) untuk kelulusan. Setiap mereka kumpul, mereka selalu mengunakan ruangan ini sebagai base camp mereka. Mulai dari bertukar pikiran tentang tugas akhir yang belum di acc dosen pembimbing, kesulitan mencari data, cerita mereka saat magang, sampai tempat memaki-maki dosen pembimbing yang mempersulit TA mereka karena terlalu banyak syarat yang berbelit-belit. Karena mereka adalah angkatan pertama jadi mereka cukup kompak. Baik PR A maupun PR B (sebutan untuk kelas di Prodi Ilmu Komunikasi). Apabila satu kelompok kumpul, maka kelompok lain pun akan muncul. Saya ingat bagaimana ketika saat hari-H mereka harus mengumpulkan TA mereka sampai pukul 18.00 mereka semua bergerombol di ruangan itu. Kebetulan saat itu saya sedang menemani teman saya yang juga akan mengumpulkan TA-nya. Jadilah ruangan ini berfungsi sebagai base camp teman-teman PR. Sebuah kesia-siaan, karena ruangan ini sama sekali tidak dioptimalkan sebagaimana fungsinya. Meja resepsionis yang ada hanya dijadikan pajangan dengan sebuah vas bunga dan almanak duduk di atasnya. Memang terdapat sebuah tempat untuk menaruh brosur, tetapi yang hanya brosur Jurusan ISP, baik Prodi PKn, maupun Prodi Komunikasi. Padahal, di meja resepsionis ditempel tulisan “pusat informasi”. Apanya yang pusat informasi jika minim sumber informasi dan sumber daya. Saya teringat ketika saya menjadi panitia MPA (masa pengenalan akademik) tahun 2007. Saya ditempatkan di departemen Kesekretariatan (Kestari), yang bertugas mendata mahasiswa baru saat mereka daftar ulang. Saat itu saya dan teman-teman saya akhirnya bertugas rangkap sebagai petugas pendata, juga sebagai pusat informasi untuk calon mahasiswa Penmaba (non reguler). Meja kami memang tepat berada di logo FIS UNJ “mencerdaskan dan mencerahkan”, jadi banyak masyarakat umum menganggap kami ini petugas pusat infomasi FIS, padahal kami adalah panitia MPA. Banyak dari mereka yang bertanya kepada kami “Mas, jurusan yang ada di sini (FIS) apa aja ya?”, “Mbak TU-nya dimananya?”, “Mas PR di sini D3 apa S1 ya?”. Bahkan ada yang bertanya tentang jurusan di FIS, kami pun menjelaskan panjang lebar. Tetapi dia orang itu bertanya lagi “Kok, nggak ada jurusan manajemen?”. Kami pun terkejut mendengarnya. Lalu kami menjelaskan kalau jurusan manajemen ada di FE, yang sudah pisah dari FIS mulai tahun 2005. Lantas orang itu pergi tanpa mengambil satu pun brosur jurusan yang ada di FIS (gubrakk!!). Kami pun harus bolak-balik ke TU untuk mengambil brosur di TU yang letaknya di lantai II, karena permintaan brosur cukup banyak, terutama untuk jurusan yang sudah terakreditasi seperti Jurusan Geografi dan Jurusan Sejarah, dan tentunya program studi yang nama kerennya PR (Public Relations) padahal nama resminya Program Studi Ilmu Komunikasi. Andai saya ruangan yang yang telah dilengkapi oleh meja resepsionis itu digunakan sesuai dengan fungsinya, maka tentu kami tidak perlu repot-repot bekerja rangkap sebagai resepsionis fakultas. Tidak perlu repot-repot bolak-balik naik-turun ke lantai II bagian akademik untuk meminta brosur, karena calon mahasiswa tidak tahu dan sedikit malas dan takut dengan petugas di bagian akademik yang selalu memasang wajah suram, yang membuat orang tidak mengenalnya jadi membatalkan niatnya untuk meminta brosur (pernah menimpa seorang calon mahasiswa). Bahkan, bukan pujian yang kami terima, justru kritikan dari Dekan FIS. “Mas, kalau bisa stand mejanya digeser ke kanan sekalian atau ke kiri sekalian. Supaya tidak menutupi logo FIS. Sayang kan tidak kelihatan!”. Sayang logonya tidak terlihat, apa tidak sayang terhadap calon mahasiswa yang tertarik kuliah di fakultas bersejarah ini?. Sebuah kesia-siaan. Andai saja ruangan digunakan benar-benar sebagai pusat informasi mengingat sudah ada fasilitasnya. Mengenai sumber daya, fakultas bisa minta bantuan teman-teman BEM, atau mungkin membuka open recruitment sebagai volunteer, atau yang lebih elegan mengunakan tenaga mahasiwa Prodi PR untuk praktek bagaimana menghadapi masyarakat supaya ilmunya diamalkan. Seperti Fakultas Ekonomi yang menggunakan mahasiswa Prodi Administrasi Perkantoran sebagai tenaga resepsionis di Gedung N (gedung administrasi FE UNJ). Itu lebih berguna untuk membangun brand image FIS, membantu mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi lebih kreatif dan berani dan mengfungsikan lobby selayaknya lobby-lobby di gedung-gedung yang dilengkapi dengan pusat infomasi untuk masyarakat umum. Daripada dijadikan tempat nongkrong anak-anak PR dan monopoli PR seperti saat ini. Memang apa terjadi dengan ruangan bersejarah ini?. Jawabnya adalah saat ini ruangan ini menjadi monopoli Prodi Ilmu Komunikasi yang diklaim sebagai koperasinya. Ruangan ini menjadi ajang uji coba mahasiswa prodi ini tahun 2007 untuk dilatih berbaur dengan masyarakat. Bukan sebagai tempat pusat informasi tetapi sebagai tempat usaha (kantin dadakan). Dengan tujuan melatih jiwa entrepreneur mahasiswa tahun 2007 dibagi menjadi berkelompok. Satu kelompok terdiri dari empat hingga lima orang dan dimodali oleh Prodi kurang lebih Rp500.000,00 untuk berdagang selama dua minggu. Menurut informasi yang saya dapat dari informan saya (seorang mahasiswa PR A 2007), dikatakan sukses apabila dapat membalikan modal kepada prodi dan keuntungan yang didapat 40%nya untuk modal kelas. Tetapi, uji coba ini hanya berlaku untuk mahasiswa PR A karena dosen mata kuliah entrepreneur-nya berbeda. “Iya Kak!cuma buat anak A aja, soalnya dosennya beda”. Sekilas tujuan ini baik, melatih mahasiswa untuk berjiwa entrepreneur dan menghadapi tuntutan masyarakat (konsumen). Tetapi dari maksudnya apa?hanya berlaku untuk satu kelas saja. Jadi bisa dibilang ini sebuah proyek atas nama tuntutan kompentensi kurikulum, apalagi mereka dimodali. Lagi pula menurut saya kurang pantas membuka usaha di lobby. Memang tempat itu sangat strategis karena terletak dekat pintu masuk dan tangga utama tempat mahasiswa FIS maupun MKU, dosen, dan karyawan lalu lalang, cocok untuk menarik konsumen. Apalagi menurut pengakuan informan saya, tidak hanya mahasiswa PR dan FIS saja yang menjadi konsumen mereka tetapi juga ada mahasiswa MKU dan sebagian mahasiswa UT yang numpang sholat di musholla ICA FIS. Lobby itu lebih lekat dengan kesan elegan sebagai pintu masuk dan pusat infomasi sebagai pelengkapnya. Bukan kantin (warung) dadakan, apalagi letaknya di pintu utama. Seharusnya fakultas mengunakan fungsi ruangan itu sebagai pusat informasi sebagai pembangun brand image FIS pada khususnya dan UNJ pada umumnya. Sudah ada fasilitasnya, dan sumber daya juga bisa dicari kenapa tidak diusahakan?. Apa kita hanya mau terpaku pada prasasti tahun 1976 itu saja, tanpa mengoptimalkan ruangan yang menurut saya bisa lebih berguna daripada dijadikan monopoli sebuah prodi. Memang tidak salah tetapi, Fakultas bekerja sama dengan Prodi mencari format yang sesuai. Dengan kontruksi tentang lobby dan keterlekatannya dengan pusat informasi bukan dengan tempat usaha. Saya ruangan ini bisa kembali ke fungsinya yang lebih tepat dan elegan serta mengembalikan kejayaan ruangan ini sebagai pintu masuk bagi masyarakat umum bukan sebagai tempat administrasi lagi. Tetapi, untuk mencari tahu tentang FIS bagi mereka sebagai yang ingin menjadi bagian civitas akademika FIS UNJ sebagai pusat informasi dan membangun brand image FIS sesuai dengan mottonya “mencerdaskan dan mencerahkan”. Thank’s to: G, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2007 atas informasinya.
|